Palu Menghancurkan Kaca
Palu Menghancurkan Kaca, Tetapi Palu Membentuk Baja.
Apa makna dari pepatah kuno diatas?
Jika jiwa kita rapuh seperti kaca, maka ketika palu/masalah
menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah, dan jadi
remuk redam. Jika kita adalah kaca, maka kita juga rentan terhadap
benturan. Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat
kita berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan sudah lebih dari
cukup untuk menghancurkan hubungan kita.
Jangan pernah jadi kaca, tapi jadilah baja. “Mental baja” adalah
mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan
keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpitnya.
Mengapa demikian? Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa
“masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik”.
Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah
lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu. Setiap pukulan memang
menyakitkan, namun mereka yang bermental baja selalu menyadari bahwa itu
baik untuk dirinya.
Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru!
Jika kita adalah “baja”, kita akan selalu melihat palu yang
menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita. Sebaliknya
jika kita “kaca” maka kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang
akan menghancurkan kita.
http://iphincow.com/2013/04/25/palu-menghancurkan-kaca/#more-608
Pemenang Kehidupan

Suatu hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah lapak untuk membeli
buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya pun
cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan seperti itu.
Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada
penjual itu. Lantas orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya, “Hei.
Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?”
Sahabatnya menjawab, “Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia
menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan
kita, bukan orang lain.”
“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah orang pertama. Ia masih merasa jengkel.
“Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan
buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita
sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan
mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas
diri sendiri.”
Sahabat, Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain
kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan
membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan,
kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita,
kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus
berurusan dengan orang itu.
Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang
lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan
dengan baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan
sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih
untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.
“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di
tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang
tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di
tengah badai yang paling hebat.
http://iphincow.com/2013/09/14/pemenang-kehidupan/#more-928
Jangan Remehkan Kebaikan Sekecil Apapun

Ketika sore sepulang kerja seorang suami melihat isteri yang tertidur
pulas karena kecapekan bekerja seharian di rumah. Sang suami mencium
kening isterinya dan bertanya, ‘Bunda, udah shalat Ashar belum?’
Isterinya terbangun dengan hati berbunga-bunga menjawab pertanyaan
suami, ‘sudah yah.’ Isterinya beranjak dari tempat tidur mengambil
piring yang tertutup, sore itu isterinya memasak kesukaan sang suami.
‘Lihat nih, aku memasak khusus kesukaan ayah.’ Piring itu dibukanya, ada sepotong kepala ayam yang terhidang untuk dirinya.
Sang suami memakannya dengan lahap dan menghabiskan. Isterinya
bertanya, ‘Ayah, kenapa suka makan kepala ayam padahal aku sama
anak-anak paling tidak suka ama kepala ayam.’ Suaminya menjawab, ‘Itulah
sebabnya karena kalian tidak suka maka ayah suka makan kepala ayam
supaya isteriku dan anak-anakku mendapatkan bagian yang terenak.’
Mendengar jawaban sang suami, terlihat butir-butir mutiara mulai
menuruni pipinya. Jawaban itu menyentak kesadarannya yang paling dalam.
Tidak pernah dipikirkan olehnya ternyata sepotong kepala ayam begitu
indahnya sebagai wujud kasih sayang yang tulus kecintaan suami terhadap
dirinya dan anak-anak. ‘Makasih ya ayah atas cinta dan kasih sayangmu.’
ucap sang isteri. Suaminya menjawab dengan senyuman, pertanda
kebahagiaan hadir didalam dirinya.
Kita seringkali mengabaikan sesuatu yang kecil yang dilakukan oleh
sosok ayah kita, namun memiliki makna yang begitu besar, di dalamnya
terdapat kasih sayang, cinta, pengorbanan dan tanggungjawab.
http://iphincow.com/2013/07/10/jangan-remehkan-kebaikan-sekecil-apapun/#more-900